hmm.. banyak cerita di kaderisasi AKSARA (aktualisasi karakter dan semangat berkarya).
nggak muna, emang acara ini bener2 super duper malesinnya. CAPEK fisik, mental dan pikiran.
AKSARA merupakan suatu acara kaderisasi untuk kami anak TPB (tahun pertama) di ITB yang mau ke tingkat dua untuk masuk Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) 'ARS PRAEPARANDI'
kembali lagi sebuah teguran dan pembelajaran perbaikan karakter yang ku peroleh. mulai dari pertemuan pertama sampai kekarang pertemuan ke 4.
be a seven stars pharmacist _+one
1. Leader
seorang farmasis harus punya jiwa kepemimpinan yang kuat, baik memimpin diri sendiri, atau orang lain.
seorang farmasis harus punya jiwa kepemimpinan yang kuat, baik memimpin diri sendiri, atau orang lain.
2. Decision Maker
Seorang farmasis harus bisa mengambil keputusan dengan bijak. memberikan keputusan terbaik dan win-win solution dalam tiap permasalahan
3. Communicator
Seorang farmasis harus bisa mengkomunikasikan ide, gagasan, wawasan, info dan segala sesuatu diperlukan kepada orang lain dengan baik dan komunikatif.
4. Long Life Learner
Seorang farmasis harus mengembangkan sikap mencari ilmu sepanjang hayat.
5. Teacher
Seorang farmasis harus bisa mengkader para farmasis2 muda agar bisa menjadi farmasis2 sesungguhnya.
6. Care Giver
Seorang farmasis harus punya kepedulian yang tinggi dan memiliki sikap pelayanan dan perhatian yang baik kepada masyarakat.
7. Manager
Seorang farmasis harus bisa mengelola dan mengatur segala sumber daya yang ada.
+one : Researcher
Seorang farmasis harus bisa menerapkan sikap meneliti dan mengembangkan pengetahuan ke arah yang lebih baik
betapa mulianya sikap tersebut? tak lain tak bukan, tugas kita sebagai profesi kesehatan ya untuk meningkatkan taraf kesehatan untuk semua insan. nggak ada tuh yg namanya perbedaan kesenjangan sosial.
lalu bagaimana ketika kita menyikapi "Polemik Kapitalisme KESEHATAN : Orang Miskin DILARANG Sehat!!!"
kembali tanya pada diri sendiri, kenapa kami ingin menjadi seorang pharmacist??
sebatas eksistensikah ?
sebatas kebanggaan kah karena kita di beri kesempatan untuk lebih tau mengenai obat dan zat aktif didalamnya?
atau hanya sebatas materi?
benarkah retorika tersebut mewakili sikap dan harapan terbentuknya peradaban dan mutu kesehatan yang tinggi?
kemana kah sikap "seven stars pharmacist +one" ? semoga nggak sebatas kata2 'dewa'.
aku ingin jadi pharmacist.
Yang bisa membuat antibiotik.
Untuk mengobati tubuhmu yang kejang. Lantaran tak berdaya lagi menahan serangan demam kemiskinan.
Juga untuk tubuhmu yg lemah oleh dinginnya tenda pengungsian, menggigil bersama anak2 mu yg tidur beralaskan koran. Terkapar dibawah jarum2 hujan.
Sungguh, aku akan jadi seorang pharmacist.
Yg bisa membuat antiseptic. Untuk lukamu yg menganga pedih.
Tercabik oleh kebencian dan permusuhan atas nama etnik.
Bernanah terinfeksi SARA.
Melepuh digerogoti pandemi korupsi.
Nanti ketika aku menjadi seorang pharmacist.
Akan ku temukan obat untuk gendang telingamu yang robek. Karena pekak oleh teriakan janji2 kemakmuran. Pekik keadilan! Sedangkan jutaan fakir masih bersimfoni dengan menyanyikan lagunya lapaaar lapaar.
Lalu akan kubuat obat untuk matamu yang buta.
Lantaran tak mampu lagi melihat operet kemiskinan. Diiringi nada pilu para pengamen cilik yang harus putus sekolah.
Aku ridho menjadi seorang pharmacist.
Dan karena itu, aku akan membuat obat untuk lambungmu yang terus bergejolak. Ingin muntah, dijejali banyak retorika, dan tak sanggup lagi mencerna slogan2 atas nama kemanusiaan dalam dalil2 kebusukan berkedok kesejahteraan. Topeng kemunafikan !
Demi Allah aku ingin jadi pharmacist yang keren gitu lhoo.
Sebab.. Indonesiaku sedang sekarat! Dan butuh obat untuk sembuh, dan kembali membangun peradaban yang mulia.
^^,
Yang bisa membuat antibiotik.
Untuk mengobati tubuhmu yang kejang. Lantaran tak berdaya lagi menahan serangan demam kemiskinan.
Juga untuk tubuhmu yg lemah oleh dinginnya tenda pengungsian, menggigil bersama anak2 mu yg tidur beralaskan koran. Terkapar dibawah jarum2 hujan.
Sungguh, aku akan jadi seorang pharmacist.
Yg bisa membuat antiseptic. Untuk lukamu yg menganga pedih.
Tercabik oleh kebencian dan permusuhan atas nama etnik.
Bernanah terinfeksi SARA.
Melepuh digerogoti pandemi korupsi.
Nanti ketika aku menjadi seorang pharmacist.
Akan ku temukan obat untuk gendang telingamu yang robek. Karena pekak oleh teriakan janji2 kemakmuran. Pekik keadilan! Sedangkan jutaan fakir masih bersimfoni dengan menyanyikan lagunya lapaaar lapaar.
Lalu akan kubuat obat untuk matamu yang buta.
Lantaran tak mampu lagi melihat operet kemiskinan. Diiringi nada pilu para pengamen cilik yang harus putus sekolah.
Aku ridho menjadi seorang pharmacist.
Dan karena itu, aku akan membuat obat untuk lambungmu yang terus bergejolak. Ingin muntah, dijejali banyak retorika, dan tak sanggup lagi mencerna slogan2 atas nama kemanusiaan dalam dalil2 kebusukan berkedok kesejahteraan. Topeng kemunafikan !
Demi Allah aku ingin jadi pharmacist yang keren gitu lhoo.
Sebab.. Indonesiaku sedang sekarat! Dan butuh obat untuk sembuh, dan kembali membangun peradaban yang mulia.
^^,

0 komentar:
Posting Komentar